Lingkup Wilayah

Wilayah adminsitratif Kawasan perkotaan Sarbagitan terdiri dari seluruh Kota Denpasar, Sebagian kabupaten Badung, Sebagian Kabupaten Gianyar dan sebagaian kabupaten Tabanan.

Kawasan Perkotaan Sarbagita mencakup 15 (lima belas) kecamatan, yang terdiri atas:

  1. Seluruh wilayah Kota Denpasar yang mencakup 4 (empat) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Denpasar Utara, Kecamatan Denpasar Timur, Kecamatan Denpasar Selatan, dan Kecamatan Denpasar Barat;
  2. Sebagian wilayah Kabupaten Badung yang mencakup 5 (lima) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Abiansemal, Kecamatan Mengwi, Kecamatan Kuta Utara, Kecamatan Kuta, dan Kecamatan Kuta Selatan;
  3. Sebagian wilayah Kabupaten Gianyar yang mencakup 4 (empat) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Sukawati, Kecamatan Blahbatuh, Kecamatan Gianyar, dan Kecamatan Ubud; dan
  4. Sebagian wilayah Kabupaten Tabanan yang mencakup 2 (dua) wilayah kecamatan, meliputi Kecamatan Tabanan dan Kecamatan Kediri.

Profil KSN

Profil KSN Sarbagita terbagi menjadi dua perwujudan yaitu:

  1. Perwujudan Struktur Ruang KSN Sarbagita
    Struktur Ruang Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri dari :
  • sistem pusat permukiman
    Pusat kegiatan Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas pusat kegiatan di kawasan perkotaan inti dan pusat kegiatan di kawasan perkotaan di sekitarnya 
  • sistem jaringan prasarana.
    Sistem jaringan prasarana Kawasan Perkotaan Sarbagita meliputi sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, dan prasarana perkotaan.

        2. Perwujudan Pola Ruang KSN Sarbagita

  • Pola ruang Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas peruntukan ruang untuk kawasan lindung dan kawasan budi daya. Kawasan lindung yang terdapat di Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas zona lindung 2 (Zona L2) yang merupakan kawasan perlindungan setempat dan zona lindung 3 (Zona L3) yang merupakan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam, dan kawasan cagar budaya.

Sistem jaringan prasarana Kawasan Perkotaan Sarbagita meliputi sistem jaringan transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, dan prasarana perkotaan.

Sistem Jaringan Transportasi

Sistem jaringan transportasi ditetapkan dalam rangka meningkatkan kualitas dan jangkauan pelayanan pergerakan orang dan barang/jasa serta memfungsikannya sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi. Sistem jaringan transportasi di Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas sistem jaringan transportasi darat, sistem jaringan transportasi laut, dan sistem jaringan transportasi udara.

Sistem Jaringan Energi

Sistem jaringan energi Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas pembangkit tenaga listrik dan jaringan transmisi tenaga listrik. Pembangkit tenaga listrik yang terdapat di kawasan perkotaan ini terdiri atas Pembangkit Listrik Tenaga Diesel & Gas (PLTDG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) yang berlokasi di Pesanggaran, Denpasar, Bali. Kapasitas pembangkit listrik yang berada di Pesanggaran tersebut mencapai 354 MW. Untuk jaringan transmisi, Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) dan Gardu Induk (GI). Gardu induk yang ada di kawasan perkotaan ini antara lain adalah GI Benoa, GI Kuta, dan GI Kapal di Kabupaten Badung; GI Pesanggaran, GI Sanur, GI Padangsambian, dan GI Pemecutan Kelod di Kota Denpasar; serta GI Serongga dan GI Payangan di Kabupaten Gianyar yang saling terhubung melalui SUTT.

Sistem Jaringan Telekomunikasi  

Sistem jaringan telekomunikasi yang terdapat di Kawasan Perkotaan Sarbagita meliputi jaringan terestrial, jaringan satelit, serta jaringan bergerak seluler berupa menara Base Transceiver Station (BTS) telekomunikasi. Sistem jaringan telekomunikasi dilayani oleh Sentral Telepon Otomat (STO) meliputi STO Ubung, STO Kaliasem, STO Sanur, STO Tohpati, STO Benoa, dan STO Monang-maning di Kota Denpasar; STO Kuta, STO Seminyak, STO Jimbaran, STO Mangupura, dan STO Nusa Dua di Kabupaten Badung; STO Gianyar, STO Sukawati, dan STO Ubud di Kabupaten Gianyar; dan STO Tabanan di Kabupaten Tabanan.

Sistem Jaringan Sumber Daya Air

Sistem jaringan sumber daya air Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas sumber air dan prasarana sumber daya air. Sumber air di kawasan perkotaan ini meliputi sumber air permukaan sungai berupa Wilayah Sungai (WS) Bali Penida dan sumber air permukaan waduk berupa Waduk Muara, serta sumber air tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) berupa CAT Denpasar-Tabanan dan CAT Nusa Dua. Kondisi sumber air tersebut mulai mengalami penurunan, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Namun demikian, sudah ada beberapa langkah yang mulai dilakukan untuk menanggulangi hal tersebut.

Sistem Jaringan Prasarana Perkotaan

Sistem jaringan prasarana perkotaan Kawasan Perkotaan Sarbagita terdiri atas Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM), sistem jaringan drainase, sistem jaringan air limbah, dan sistem pengelolaan persampahan. SPAM di kawasan perkotaan ini terdiri atas SPAM jaringan perpipaan yang meliputi unit air baku, unit produksi, unit distribusi, unit pelayanan, dan unit pengelolaan, serta SPAM bukan jaringan perpipaan yang meliputi sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air hujan, terminal air, mobil tangki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan mata air. SPAM jaringan perpipaan di Kawasan Perkotaan Sarbagita meliputi Sistem Barat yang dilayani oleh Unit Produksi Penet; Sistem Tengah yang dilayani oleh Unit Produksi Waribang I, Unit Produksi Waribang II, Unit Produksi Waribang III, Unit Produksi Ayung I, Unit Produksi Ayung II, dan Unit Produksi Muara Nusa Dua (Estuary Dam); serta Sistem Timur yang dilayani oleh Unit Produksi Petanu dan Unit Produksi Unda. SPAM di Kawasan Perkotaan Sarbagita ini dipadukan dengan sistem jaringan sumber daya air untuk menjamin ketersediaan air baku.

Sistem saluran drainase di kawasan perkotaan ini adalah saluran drainase primer yang dikembangkan melalui sistem saluran pembuangan utama meliputi Sistem Tukad Ayung, Sistem Tukad Badung, Sistem Tukad Mati, Sistem Niti Mandala-Suwung, Sistem Pemogan, Sistem YehPenet, Sistem YehEmpas, Sistem YehAbe, Sistem Tukad Melangit, Sistem Tukad Sangsang, Sistem Tukad Pakerisan, Sistem Tukad Petanu, Sistem Tukad Oos, Sistem Kuta Selatan 1, dan Sistem Kuta Selatan 2. Sistem jaringan drainase ini dilaksanakan secara terpadu dengan sistem pengendalian banjir.

Sistem pembuangan air limbah terpusat mencakup Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) beserta jaringan air limbah yang dilaksanakan dengan memperhatikan aspek teknis, lingkungan, dan sosial-budaya masyarakat setempat, serta dilengkapi dengan zona penyangga. IPAL yang terdapat di Kawasan Perkotaan Sarbagita meliputi IPAL Suwung, IPAL Badung, IPAL Jimbaran, IPAL Benoa, IPAL Gianyar, IPAL Sukawati, IPAL Ubud, dan IPAL Tabanan. Khusus IPAL Suwung, IPAL ini tidak hanya menampung limbah dari kuras wc oleh truk, melainkan juga dari pipa-pipa rumah warga melalui proyek Denpasar Sewerage Development Project (DSDP).

Sistem jaringan prasarana perkotaan terakhir yang terdapat di Kawasan Perkotaan Sarbagita adalah sistem pengelolaan persampahan. Sistem pengelolaan persampahan di kawasan ini terdiri atas Tempat Penampungan Sementara (TPS) sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sampah. Lokasi TPS sampah di Kawasan Perkotaan Sarbagita direncanakan pada unit lingkungan permukiman dan pusat-pusat kegiatan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayahkabupaten/kota. Lokasi TPST dan TPA sampah regional Kawasan Perkotaan Sarbagita berada di Suwung, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar. TPA Suwung saat ini masih dalam proses revitalisasi yang menjadi bagian dari persiapan Konferensi Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia (World Bank) di Bali pada pertengahan Oktober 2018. TPA Suwung ini selanjutnya akan ditangani dalam dua proyek, yaitu sanitary landfill management dan waste to energyWaste To Energy (WTE) atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) ini ditargetkan selesai pada tahun 2021 dengan teknologi yang ditawarkan menggunakan insenerator, sampah dibakar dan menghasilkan listrik. Saat ini, TPA Suwung sudah siap dibangun PLTSa dengan luas 5 hektar

Isu Strategis

1. Isu transportasi berkelanjutan.

Kemacetan lalu–lintas yang terjadi semakin meningkat dan berkepanjangan. Penyediaan transportasi publik di Kawasan Perkotaan Sarbagita hingga saat ini masih belum memecahkan permasalahan transportasi dan pergerakan yang ada, khususnya perkotaan inti Kota Denpasar dan Perkotaan Kuta. BRT Trans Sarbagita yang telah beroperasi beberapa tahun terakhir juga belum optimal dalam mengurangi tingkat dan kompleksitas permasalahan. Hingga saat ini kinerja Trans Sarbagita dinilai menurun, disertai dengan menurunnya dukungan pemerintah daerah terhadap penyediaan dana operasional.

2. Isu lingkungan berkelanjutan.

Tri Hita Karana sebagai suatu filosofi jati diri budaya Bali, hingga saat ini cukup mampu meredam kegiatan–kegiatan yang berpotensi terhadap kerusakan lingkungan dan mengurangi intensitas risiko kerusakan lingkungan. Namun demikian, filosofi ini masih belum dapat bekerja maksimal akibat tingginya dorongan kepentingan ekonomi dan investasi dari permintaan pasar melihat Bali sebagai destinasi internasional berkelas dunia. Selain itu, kualitas sanitasi perkotaan dan permukiman, kualitas pesisir dan perairan laut, berkurangnya lahan pertanian, dan pengendalian daya rusak air yang belum optimal juga menjadi isu lingkungan yang ada di Kawasan Perkotaan Sarbagita.

3. Isu kelembagaan dan pengelolaan Kawasan Perkotaan Sargabita.

Pembangunan kawasan perkotaan ini masih belum didukung dengan suatu perangkat kelembagaan pengelola pembangunan metropolitan, yang mampu dan memiliki kapasitas dalam menjaga konsistensi kepentingan nasional maupun daerah, sesuai rencana tata ruang yang disepakati bersama. Namun, keberadaan Forum Pemerintah Daerah (Pemda) Sarbagita hingga saat ini dianggap cukup memenuhi dalam upaya menyelesaikan berbagai kebutuhan penanganan dan pemecahan permasalahan pembangunan kawasan metropolitan ini

Konsep Penanganan

  1. penerapan konsep Cathus Patha, Hulu-Teben, dan Tri Mandala sebagai dasar penetapan struktur ruang utama dan arah orientasi ruang;
  2. perlindungan terhadap kawasan-kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan suci dan kawasan tempat suci;
  3. penerapan konsep karang bengang atau ruang terbuka berupa lahan pertanian yang dikelola berbasis subak sebagai zona penyangga;
  4. pengintegrasian dan harmonisasi pemanfaatan jalur-jalur jalan utama kawasan perkotaan untuk kegiatan prosesi ritual keagamaan dan budaya;
  5. penerapan ketentuan ketinggian bangunan paling tinggi 15 (lima belas) meter dari permukaan tanah; dan
  6. penerapan wujud lansekap dan tata bangunan yang mempertimbangkan nilai arsitektur tradisional Bali.

Tujuan KSN

Tri Hita Karana

"Mewujudkan Perkotaan yang aman, nyaman, produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan, sebagai kegiatan ekonomi nasional berbasis Pariwisata bertaraf Internasional, yang berjati diri budaya Bali berlandaskan Tri Hita Karana"

Kebijakan

  1. pengembangan keterpaduan sistem pusat-pusat kegiatan yang mendukung fungsi kawasan sebagai pusat kegiatan ekonomi nasional berbasis kegiatan pariwisata yang bertaraf internasional;
  2. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan sistem prasarana;
  3. peningkatan fungsi dan perlindungan fasilitas pertahanan dan keamanan negara; dan
  4. pelestarian alam dan sosial-budaya di Kawasan Perkotaan Sarbagita sebagai pusat pariwisata bertaraf internasional yang berjati diri budaya Bali.
Loading