Lingkup Wilayah

Kawasan Perkotaan Medan, Binjai, Deli Serdang, dan Karo selanjutnya disebut Kawasan Perkotaan Mebidangro adalah satu kesatuan kawasan perkotaan yang terdiri atas Kota Medan sebagai kawasan perkotaan inti, Kawasan Perkotaan Binjai, Kawasan Perkotaan Deli Serdang, dan Kawasan Perkotaan Maros, sebagai kawasan perkotaan di sekitarnya, yang membentuk kawasan metropolitan. Kawasan Perkotaan Mebidangro mencakup 52 ( lima puluh dua) kecamatan.

Lingkupnya mencakup 2 Kota, dan 2 Kabupaten, dengan 46 Adminisrasi Kecamatan.

  • Pemerintah Kota Medan, 21 Kecamatan (26.510 ha)
  • Pemerintah Kota Binjai, 5 Kecamatan (9.024 ha)
  • Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, 22 Kecamatan (224.200 ha)
  • Pemerintah Kabupaten Karo, 17 Kecamatan (212.700 ha)

Profil KSN

Kebijakan tata ruang nasional menempatkan metropolitan mebidangro  sebaggai pusat kegiatan nasional (PKN)  sekaligus sebagai kawasan strategis nasional (KSN) dengan fokus pengembang kegiatan ekonomi. Metropolitan mebinidangro berada di wilayah sumatera utara memiliki kedudukan strategis terhadap pengembangan Segitiga Ekonomi Regional Indonesia -  Thailand – Singapura (IMG-GT). Posisinya yang strategi ini menjadi perhatian penting dalam pengembangan Metropolitan Mebidangro kedepan.

Metropolitan Mebidangro didikung keberadaan Bandara Kualanamu (dalam proses pembangunan) sebagai pengganti Bandara Polonia, Bandara Kualanamu di tetapkan sebagai bandara internasional dengan hierarki pusat pengumpul skalaprimer  (KM 11 tahun 2010) Tatanan Kebandarudaraan Nasional). Bandara Kualanamu direncanakan memiliki kapasitas pelayanan untuk penerbangan pesawat type B.747-400, dengan rencana luas wilayah bandara minimal 1.365 Ha. Metropolitan Mebidangro juga didukung keberadaan pelabuhan laut belawan dengan status pelabuhan internasional (PP No.26 Tahun 2008, Rencana Tata Ruang).

Keberadaan Bandara Kualanamu dan Pelabuhan Laut Belawan menjadi orientasi dan pembangunan ekonomi Metropolitan Mebidangro kedepan melalui percadangan kawasan ekonomi pada koridor Kualanamu-Belawan secara terpadu, Metropolitan Mebidangro juga didukung pusat -pusat primer pada lokasi-lokasi strategis yang terintegrasi dengan sistem transportasi primer (Jalan Tol, Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Arteri Primer) dan Pusat-pusat sekunder yang berfungsi mendukung keberadaan pusat pusat primer.

Kebijakan Tata Ruang Nasional menempatkan Metropolitan Mebidangro sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sekaligus sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dengan fokus pengembangan kegiatan ekonomi. Metropolitan Mebidangro berada di Wilayah Sumatera Bagian Utara yang memiliki kedudukan strategis terhadap pengembangan Segitiga Ekonomi Regional Indonesia Thailand -Singapura (IMT-GT). Posisinya yang strategis ini menjadi perhatian penting dalam pengembangan Metropolitan Mebidangro ke depan. Medan-Binjai-Deli Serdang & Karo sendiri memiliki visi yang jauh ke depan (visi 2027) yaitu kota yang nyaman dihuni, memiliki fasilitas kota yang terjangkau, mendorong gairah berakitivitas sosial, ekonomi maupun kebudayaan, banyak ruang publik yang mudah dicapai dengan bersepeda atau jalan kaki dan transportasi umum yang andal. Selain itu, sebagai PKN dan KSN Ekonomi, Rencana Pengembangan Metropolitan Mebidangro telah disiapkan sampai tahun 2030. Tujuannya agar Mebidangro mampu menjadi pusat pelayanan ekonomi skala nasional yang mampu bersaing dengan pusat pelayanan ekonomi Regional IMT-GT, di samping melayani penduduknya dengan prima. Luas wilayah Metropolitan Mebidangro adalah 301.697 ha, meliputi Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang dan sebagian Kabupaten Karo. Pada tahun 2009 total jumlah penduduk metropolitan ini mencapai 4.2 juta Jiwa.

Dengan perkiraan pertumbuhan penduduk selama 20 tahun terakhir sebesar 30,95%, diperkirakan jumlah penduduk Metropolitan Mebidangro pada tahun 2029 akan mencapai 5.5 juta Jiwa. Dilihat dari daya dukung fisik dasarnya, sekitar 37,55% lahan Metropolitan Mebidangro, yaitu 113.280 ha, potensial dikembangkan untuk kegiatan perkotaan. Diperkirakan daya tampung kawasan Metropolitan Mebidangro mencapai 6,8 juta jiwa.Metropolitan Mebidangro didukung dengan keberadaan Bandara Kualanamu (dalam proses pembangunan) sebagai pengganti Bandara Polonia. Bandara Kualanamu ditetapkan sebagai bandara internasional dengan hierarki pusat pengumpul skala primer (KM 11 Tahun 2010, Tatanan Kebandarudaraan Nasional). Bandara Kualanamu direncanakan memiliki kapasitas pelayanan untuk penerbangan pesawat tipe B.747400, dengan rencana luas wilayah bandara minimal 1.365 ha. Metropolitan Mebidangro juga didukung keberadaan pelabuhan laut Belawan dengan status pelabuhan internasional (PP No. 26 tahun 2008, Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional). Dalam melaksanakan pengelolan Kawasan Metropolitan, penguatan kelembagaan eksisting melalui  pola kerjasama daerah menjadi perhatian penting terkait implementasi pengembangan Metropolitan Mebidangro 2030. Penguatan kelembagaan berorientasi pada sinergi program pembangunan, kepastian hukum dan perpendekan proses birokrasi sehingga mampu meningkatkan gairah investasi di wilayah Metropolitan Mebidangro.

Sarana Prasarana

Kondisi Jaringan Prasarana Strategis KSN Mebidangro, meliputi :

  1. Sistem Jaringan Transportasi, antara lain :
  2. Sistem Jaringan Prasarana Perkotaan, antara lain :

Sistem Jaringan Transportasi meliputi:

  1. Prasarana Sarana Perhubungan Darat; Terminal Tipe A yaitu Terminal Medan Amplas dan Terminal Pinang Baris, Terminal Barang yaitu Terminal Barang Terpadu Deli Serdang, Terminal Barang Kawasan Industri Lamhotma dan Kawasan Industri Hamparan dan Terminal Agribisnis Medan
  2. Prasarana Sarana Perhubungan Udara; Bandar Udara Internasional Kuala Namu dan Bandar Udara Internasional Polonia.
  3. Prasarana Sarana Perhubungan Laut; Pelabuhan Utama Belawan, Pelabuhan Pantai Labu, Pelabuhan Rantau Panjang, Pelabuhan Percut dan Pelabuhan Khusus yaitu LANAL dan Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Belawan

Jaringan Jalan Kawasan Perkotaan Mebidangro, meliputi :

Jaringan Jalan Arteri Primer

  1. Jalan Batas Deli Serdang/Serdang Bedagai-Lubuk Pakam-Tanjung Morawa Lingkar Luar Kota Medan-Sunggal-Binjai-Batas Binjai/Langkat;
  2. Jalan Medan-Belawan;
  3. Jalan Medan-Batang Kuis-Kuala Namu;
  4. Jalan Lubuk Pakam-Kuala Namu-Belawan-Hamparan Perak;
  5. Jalan Percut Sei Tuan-Tembung-Tanjung Morawa;
  6. Jalan Medan Sunggal-Medan Timur-Percut Sei Tuan; dan  jalan Medan Selayang-Pancur Batu

Jaringan Jalan Kolektor Primer I

  1. Jalan Pancur Batu-Berastagi; dan
  2. Jalan Berastagi-Kabanjahe.

Jaringan Jalan Kolektor Primer II

  1. Jalan Deli Tua-Sinembah Tanjung Muda Hilir-Tiga Juhar-Bangun Purba;
  2. Jalan Pagar Merbau-Galang-Bangun Purba-Batas Deli Serdang/Serdang Bedagai;
  3. Jalan Galang-Batas Deli Serdang/Serdang Bedagai;
  4. Jalan Batas Deli Serdang/Simalungun-Pekan Gunung Meriah-Jalan Batas
  5. Deli Serdang/Simalungun;

Jaringan Jalan Sekunder, meliputi :

  1. Jalan Yang Menghubungkan Kota Binjai Dengan Kota Medan Dan Kawasan Perkotaan Lubuk Pakam;
  2. Jalan Yang Menghubungkan Kawasan Perkotaan Pancur Batu Dengan Kawasan Perkotaan Lubuk Pakam Melalui Kecamatan Deli Tua; >
  3. Jalan Yang Menghubungkan Kota Medan Dengan Kawasan Perkotaan Percut
  4. Sei Tuan Dan Kawasan Perkotaan Lubuk Pakam Melalui Kecamatan Batang Kuis;
  5. Jalan Yang Menghubungkan Kecamatan Medan Helvetia Dengan Kecamatan Medan Labuhan;
  6. Jalan Yang Menghubungkan Kawasan Perkotaan Percut Sei Tuan Dengan Kawasan Perkotaan Lubuk Pakam Melalui Kecamatan Batang Kuis Dan Kecamatan Pantai Labu;

Jaringan Jalan Bebas Hambatan, meliputi:

  1. Jalan Bebas Hambatan antarkota yaitu jalan Medan-Tanjung MorawaLubuk Pakam-Kuala Namu-Batas Deli Serdang/Serdang Bedagai-Tebingtinggi.
  2. Jalan bebas hambatan dalam kota, meliputi:
  • Jalan Belawan-Medan-Tanjung Morawa; dan
  • Jalan Binjai-Medan.

Sistem Jaringan Prasarana Perkotaan

Jaringan Prasarana Perkotaan Mebidangro, memiliki peran strategis dan vital dalam pengelolaan lingkungan permukiman kawasan perkotaan berkelanjutan, untuk mempertahakan kapasitas dan meningkatkan daya tampung perkotaan, melalui :

  • Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)
  • Sistem Jaringan Drainase
  • Sistem Jaringan Air Limbah
  • Sistem Pengelolaan Persampahan 

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Mebidangro, didukung oleh 2 (dua) Sistem :

  • Jaringan Perpipaan
  • Bukan Jaringan Perpipaan.

SPAM Jaringan Perpipaan

SPAM Jaringan Perpipaan, meliputi:

  1. Unit air baku bersumber dari beberapa sumber air, meliputi: sumur dangkal, sumur pompa tangan, bak penampungan air hujan, terminal air, mobil tangki air, instalasi air kemasan, atau bangunan perlindungan mata air.
  2. Unit produksi

Unit produksi air minum, meliputi :

  1. Instalasi Pengolahan Air minum (IPA) Tirtanadi, IPA Sibolangit, IPA Sunggal, IPA Deli Tua, IPA Belumai, IPA Limau Manis, dan IPA Hamparan Perak melayani Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang;
  2. IPA Sei Ular, IPA Tirtanadi, dan IPA Tirtadeli melayani Kabupaten Deli Serdang; dan IPA Tirtanadi Berastagi melayani Kabupaten Karo.
  3. IPA Marcapada melayani Kota Binjai;

Unit distribusi

Unit distribusi air minum di tetapkan di Kota Medan, Kota Binjai, Kabupaten Deli Serdang,  dan Kabupaten Karo

SPAM Bukan Jaringan Perpipaan

SPAM Bukan Jaringan Perpipaan, meliputi:

  1. Sumur dangkal
  2. Sumur pompa tangan
  3. Bak penampungan air hujan,
  4. Terminal air
  5. Mobil tangki air
  6. Instalasi air kemasan atau bangunan perlindungan mata air

Sistem Jaringan Drainase

Sistem Jaringan Drainase melalui saluran pembuangan utama, meliputi :

  1. Sungai Badera-Belawan di Kota Medan;
  2. Sungai Babura-Deli di Kota Medan;
  3. Sungai Kera-Percut di Kota Medan;
  4. Sungai Diski di Kota Medan;
  5. Sungai Bingai di Kota Binjai;
  6. Sungai Bengkatan di Kota Binjai;
  7. Sungai Mencirim di Kota Binjai;
  8. Sungai Lubuk Dalam di Kabupaten Deli Serdang;
  9. Sungai Ular di Kabupaten Deli Serdang;
  10. Sungai Serdang di Kabupaten Deli Serdang;
  11. Sungai Percut di Kabupaten Deli Serdang;
  12. Sungai Deli di Kabupaten Deli Serdang;
  13. Sungai Belawan di Kabupaten Deli Serdang;
  14. Lau Asam di Kabupaten Karo;
  15. Lau Belim di Kabupaten Karo; dan
  16. Lau Mulgap di Kabupaten Karo.

Sistem Jaringan Air Limbah

Sistem Pembuangan Air Limbah Setempat mencakup dilakukan secara individual melalui pengolahan dan pembuangan air limbah setempat serta dikembangkan pada kawasan yang belum memiliki sistem pembuangan air limbah terpusat.

Sistem Pembuangan Air Limbah Terpusat mencakup Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) beserta jaringan pengumpul air limbah, meliputi :

  1. IPAL Cemara di Kecamatan Medan Timur melayani Kota Medan;
  2. IPAL Mencirim di Kecamatan Binjai Timur dan IPAL Binjai di Kecamatan Binjai Utara melayani Kota Binjai;
  3. IPAL Lubuk Pakam di Kecamatan Lubuk Pakam, IPAL Sunggal di Kecamatan Sunggal, IPAL Sinembah Tanjung Muda Hilir di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, dan IPAL Namorambe di Kecamatan Namorambe melayani Kabupaten Deli Serdang.

Sistem Pengelolaan Persampahan

  1. TPA Terjun di Kecamatan Medan Marelan di Kota Medan;
  2. TPA Mencirim di Kecamatan Binjai Timur di Kota Binjai;
  3. TPA Namobintang di Kecamatan Pancur Batu, TPA Durian Tonggal di Kecamatan Pancur Batu, TPA Tadukan Raga di Kecamatan Sinembah Tanjung Muda Hilir, dan TPA Batang Kuis di Kecamatan Batang Kuis di Kabupaten Deli Serdang

Isu Strategis

Isu strategis Kawasan Perkotaan Mebidangro meliputi:

  1. Fungsi Kawasan Perkotaan Mebidangro sebagai pusat perekonomian nasional yang produktif dan efisien serta mampu bersaing secara internasional terutama dalam kerja sama ekonomi subregional Segitiga Pertumbuhan Indonesia-Malaysia-Thailand;
  2. Akses pelayanan pusat pusat kegiatan perkotaan Mebidangro sebagai pembentuk struktur ruang perkotaan dan penggerak utama pengembangan wilayah Sumatera bagian utara;
  3. Kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, serta prasarana perkotaan Kawasan Perkotaan Mebidangro yang merata dan terpadu secara internasional, nasional, dan regional;
  4. Keterpaduan antarkegiatan budi daya serta keseimbangan antara perkotaan dan perdesaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan;
  5. Fungsi, kuantitas, dan kualitas RTH dan kawasan lindung lainnya di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Tujuan

1. Kawasan Perkotaan Mebidangro yang aman, nyaman, produktif, berdaya saing secara internasonal, dan berkelanjutan sebagai pusat kegiatan nasional di bagian utara Pulau Sumatera.

2. Lingkungan perkotaan yang berkualitas dan keseimbangan tata air DAS.

3. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

4. Pertahanan dan keamanan negara yang dinamis serta integrasi nasional di Kawasan Perkotaan Mebidangro.

Kebijakan

Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Mebidangro meliputi :

  1. pengembangan dan pemantapan fungsi Kawasan Perkotaan Mebidangro sebagai pusat perekonomian nasional yang produktif dan efisien serta mampu bersaing secara internasional terutama dalam kerja sama ekonomi subregional Segitiga Pertumbuhan Indonesia – Malaysia – Thailand;
  2. peningkatan akses pelayanan pusat – pusat kegiatan perkotaan Mebidangro sebagai pembentuk struktur ruang perkotaan dan penggerak utama pengembangan wilayah Sumatera bagian utara;
  3. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, energi, telekomunikasi, sumber daya air, serta prasarana perkotaan Kawasan Perkotaan Mebidangro yang merata dan terpadu secara internasional, nasional, dan regional;
  4. peningkatan keterpaduan antarkegiatan budi daya serta keseimbangan antara perkotaan dan perdesaaan sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan;
  5. peningkatan fungsi, kuantitas, dan kualitas RTH dan kawasan lindung lainnya di Kawasan Perkotaan Mebidangro;
  6. peningkatan fungsi dan fasilitas pertahanan dan keamanan negara di Kawasan Perkotaan Mebidangro; dan
  7. peningktan koordinasi, integrasi. dan sinkronisasi pembangunan Kawasan Perkotaan Mebidangro melalui kerja sama antardaerah, kemitraan pemangku kepentingan, dan penguatan peran masyarakat.
Loading