Cakupan Wilayah:

Kawasan BBK meliputi KPBPB Batam, Bintan, dan Karimun yang menjadi satu kesatuan secara ekologi dan ekosistem. Kawasan BBK sebagaimana dimaksud meliputi sebagian wilayah administrasi Kota Batam, sebagian wilayah administrasi Kota Tanjung Pinang, sebagian wilayah administrasi Kabupaten Bintan, dan sebagian wilayah administrasi Kabupaten Karimun.

Profil Wilayah

Kawasan Batam, Bintan dan Karimun merupakan kawasan penting dalam perdagangan internasional, karena kedudukan kawasan yang terletak di Selat Malaka, yang merupakan jalur perdagangan internasional melalui transportasi laut. Transportasi laut ini menjadi jalur distribusi barang internasional dan meliputi wilayah ruang maritime global, yaitu rute pelayaran internasional utama di dunia yang belokasi antara zona-zona industry seperti Eropa Barat, Amerika Utara, dan Asia Timur (terutama Jepang dan Cina).

Keunggulan posisi Selat Malaka sebagai jalur lalu lintas transportasi laut internasional juga bisa dilihat dari perbandingan kapasitas angkutan minyak mentah yang melalui 6 selat utama di dunias, yaitu Selat Panama, Selat Bosporus, Terusan Suezm Selat Bab El-mandab, Selat Malaka berkisar 14 juta barrel per hari, menempati urutan kedua terbesar setelah Selat Hormuz.

Kawasan Batam-Bintan-Karimun merupakan Kutub Pertumbuhan Ekonomi Nasional. Untuk mengetahui perenanan Kawasan Batam-Bintan-Karimun secara nasional dalam konteks perekonomian dapat dilihat dari besaran beberapa parameter ekonoomi seperti tingkat PRB, PDRB perkapita serta laju pertumbuhan PDRB dibandingkan dengan Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi DKI Jakarta serta Indonesia. Dengan melihat perbandingan kondisi saat ini maka dapat disimpulkan bahwa pososi Kawasan Batam-Bintan-Karimun pada Tahun 2027 memiliki prospek pertumbuhan perkonomian yang sangat baik. Dengann demikian perannya sebagai kutub pertumbuhan ekonomi nasional juga semakin mantab.

Peluang Kawasan Batam, Bintan dan Karimun dalam konteks IMS-GT Pengemangan Kawasan BBK dalam lingkup regional sangat erat kaitannya dengan perkembangan perdagangan negara-negara tetangga yang dilalui Selat Malaka ayitu Singapura dan Malaisya, dengan kawasan dan negara yang langsung bersinggunagn dikenal dengan SIJORI, Singapura, Johor dan Riau. Kerjasama Indonesia (Riau) dan Singapura menunjukkan tingkat formalitas yang lebih tinggi dan menghasilkan spilover effects positif bagi Batam dan Bintan yaitu berupa relokasi industri ke Batam dan Bintan yang menjadikan Batam sebagai kawasan kedua di Indonesia setelah Bali yang banyak dikunjungi wisatawan asing.

Langkah Strategis

  1. Pengembangan koridor perdagangan dan jasa internasional di Batam pada Tahun 2027 akan memiliki akses terpadu antar pusat-pusat kegiatan perdagangan dan jasa internasional, nasional dan regional di dalam kawasan serta antar kawasan Bitan dan Karimun melalui sistem transportasi darat, laut dan udara.
  2. Pengembangan koridor perdagangan dan jasa internasional di Bintan
  3. Pengembangan koridor perdagangan dan jasa internasional di Karimun
  4. Pengembangan koridor industri internasional di Batam
  5. Pengembangan koridor industri internasional di Bintan
  6. Pengembangan koridor pariwisata mancanegara dan domestik Batam
  7. Pengembangan koridor pariwisata mancanegara dan domestik Bintan
  8. Pengembangan koridor pariwisata mancanegara dan domestik Karimun
  9. Pengembangan Zona Pertahanan dan Keamanan

Tujuan

Penataan ruang Kawasan BBK bertujuan untuk:

  1. mewujudkan ruang Kawasan BBK yang aman, nyaman, produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan;
  2. mewujudkan peningkatan fungsi pelestarian dan perlindungan lingkungan hidup sebagai satu kesatuan ekosistem kepulauan.
  3. mewujudkan pemantapan dan peningkatan fungsi pertahanan dan keamanan negara pada Kawasan BBK sebagai kawasan perbatasan; dan
  4. mewujudkan penyelenggarakan fungsi-fungsi perekonomian yang bersifat khusus pada Kawasan BBK sebagai KPBPB;

Kebijakan

Kebijakan Penataan Ruang Kawasan BBK meliputi:

  1. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budi daya;
  2. pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.
  3. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
  4. pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar sesuai fungsi dan tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan;
  5. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara;
  6. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian Nasional yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian Internasional;
  7. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, sumber daya air, serta prasarana dan sarana perkotaan yang terpadu dan merata di seluruh kawasan;
  8. peningkatan pelayanan pusat kegiatan kawasan yang merata dan berhierarki;
Loading