Cakupan wilayah

Candi Borobudur merupakan candi terbesar di Indonesia, yang terletak di Desa Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, atau berada kurang lebih 100 Km di sebelah barat daya Semarang dan 40 Km di sebelah Barat Laut Yogyakarta. Candi yang didirikan oleh para penganut Agama Buddha sekitar tahun 824 M ini memikat wisatawan seluruh dunia dengan konstruksi bangunan candi yang unik, serta 1.460 relief tentang rangkaian cerita pada masa pembangunannya yang mengelilinginya.

Kawasan Borobudur ditetapkan dengan mempertimbangkan:

  • Perlindungan Situs Candi Borobudur, Candi Pawon, Dan Candi Mendut;
  • Sebaran Situs Sejarah Dan Purbakala Yang Belum Tergali;
  • Pengendalian Bentang Pandang Dari Candi Borobudur.

KSN Borobudur dan sekitarnya merupakan KSN dari sudut kepentingan sosial budaya yang meliputi Kawasan Borobudur terdiri atas SP-1 dan SP-2. Kawasan Borobudur yang termasuk dalam SP-1 merupakan bagian wilayah Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, meliputi:

  1. Desa Bojong, Desa Paremono, Desa Pabelan, Desa Ngrajek, dan Kelurahan Mendut di Kecamatan Mungkid; dan
  2. Desa Wanurejo dan Desa Borobudur di Kecamatan Borobudur.

Cakupan Kawasan Borobudur ditetapkan dengan mempertimbangkan:

  1. perlindungan situs Candi Borobudur, Candi Pawon, dan Candi Mendut;
  2. sebaran situs sejarah dan purbakala yang belum tergali; dan
  3. pengendalian bentang pandang dari Candi Borobudur.

Kawasan Borobudur yang termasuk dalam SP-2:

  1. Berada dalam lingkaran dengan batas koordinat terluar:
    • A1 412.163,24 Meridian Timur, 9.164.071,51 Meridian Utara;
    • A2 408.670,73 Meridian Timur, 9.162.509,39 Meridian Utara;
    • A3 407.083,23 Meridian Timur, 9.158.977,19 Meridian Utara;
    • A4 408.631,05 Meridian Timur, 9.155.445,00 Meridian Utara;
    • A5 412.163,24 Meridian Timur, 9.153.936,87 Meridian Utara;
    • A6 415.854,19 Meridian Timur, 9.155.405,31 Meridian Utara;
    • A7 417.203,56 Meridian Timur, 9.158.897,82 Meridian Utara; dan
    • A8 415.695,44 Meridian Timur, 9.162.509,39 Meridian Utara;
  2. Merupakan bagian wilayah Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, meliputi:
    • Desa Wringin Putih, Desa Bumiharjo, sebagian Desa Tegalarum, sebagian Desa Kebonsari, Desa Kembanglimus, Desa Karangrejo, sebagian Desa Ngadiharjo, Desa Karanganyar, sebagian Desa Giripurno, Desa Giritengah, Desa Tanjungsari, Desa Tuksongo, Desa Majaksingi, Desa Ngargogondo, Desa Candirejo, sebagian Desa Sambeng, dan sebagian Desa Kenalan di Kecamatan Borobudur;
    • Kelurahan Sawitan, Desa Progowati, dan sebagian Desa Rambeanak di Kecamatan Mungkid;
    • Desa Deyangan, sebagian Desa Pasuruhan, sebagian Desa Donorojo, dan sebagian Desa Kalinegoro di Kecamatan Mertoyudan;
    • Sebagian Desa Ringinanom dan sebagian Desa Sumberarum di Kecamatan Tempuran; dan
    • Sebagian Desa Menayu, sebagian Desa Adikarto, sebagian Desa Tanjung, dan sebagian Desa Sukorini di Kecamatan Muntilan;
  3. Merupakan bagian wilayah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, meliputi:
    • sebagian Desa Sidoharjo dan sebagian Desa Gerbosari di Kecamatan Samigaluh; dan
    • sebagian Desa Banjaroyo di Kecamatan Kalibawang.

Cakupan Kawasan Borobudur digambarkan dalam peta dengan delineasi berbentuk lingkaran dalam radius paling sedikit 5 (lima) kilometer dari pusat Candi Borobudur dan Koridor Palbapang yang berada di luar radius 5 (lima) kilometer dari pusat Candi Borobudur.

Profil Wilayah

Administratif

Nama Kecamatan

Jumlah Kelurahan / Desa

Luas Wilayah

(Ha)

(%) Terhadap Total

Mungkid

16

3740

3,44

Borobudur

20

5455

5,02

 

Isu-Isu Umum

Apa saja sih daya tarik wisata candi Borobudur ini?

Hal pertama, tentu karena tempatnya. Kemegahan candi ini memang tiada duanya. Jika anda lihat langsung, akan terasa sekali besarnya bangunan dan keseluruhan area. Berada di ketinggian, keindahan arsitektur dan alam sekitar candi terasa banget.

Dua hal mencolok yang langsung terlihat saat wisata ke Candi Borobudur; banyaknya relief (ukiran dinding) dan Stupa. Struktur bangunan Borobudur dibangun dengan menggunakan gaya mandala. Selain itu juga melambangkan konsep alam semesta dalam kepercayaan Budha. Candi ini berbentuk kotak, memiliki 4 pintu masuk, dan pusat candi yang berbentuk lingkaran.

Ada 3 zona di candi borobudur ;

  1. Kamadhatu. Berupa 160 relief dinding dengan penjelasan Karmawibhangga Sutra (hukum sebab-akibat). Melambangkan alam dunia.
  2. Rupadhatu. Terdiri dari ukiran relief dan patung Buddha. Ada kurang lebih 328 patung buddha dengan hiasan relief disini. Melambnagkan alam peralihan, alam dimana manusia terbebas dari urusan dunia.
  3. Arupadhatu. Zona ini adalah zona lingkaran di pusat candi, berupa tiga serambii yang mengarah ke kubah di bagian tengah. Area ini tidak ada hiasan relief, menandakan kemurnian tertinggi.

Isu Strategis

Ada beberapa alasan yang mendasari dibuatnya Perpres tentang pengelolaan Candi Borobudur, antara lain:

  1. Belum jelasnya visi tematik dan masterplan pelestarian kawasan candi
  2. Perubahan paradigma pelestarian dari Static Conservation menjadi Dynami Conservation
  3. Penurunan kualitas fisik lingkungan akibat tidak jelasnya landasan pengaturan perijinan
  4. Lemahnya kontrol pedagang formal dan informal
  5. Tidak jelasnya koordinasi antara Pemerintah Nasional dengan Pemda
  6. Lemahnya keterlibatan masyarakat
  7. Tidak adanya payung hukum yang jelas yang dapat menjamin pelestarian cagar budaya dunia Candi Borobudur

Konsep Dasar Pengembangan

Untuk itu untuk arahan pembangunan kawasan perdesaan terdapat konsep–konsep dasar pengembangan yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. untuk melindungi dan meningkatkan karakter alami lingkungan melalui bentukan tapak, lingkungan, kawasan perairan, bentukan geologi dan sebagainya.
  2. Untuk menjamin ekosistem dan habitatnya yang berkelanjutan melalui pendekatan dan proses yang natural.

Dengan konsep dasar tersebut yang menjadi arahan pengembangan kawasan perdesaan adalah:

  1. Menjaga areal hijau kawasan, areal perairan dan struktur geologi kawasan;
  2. Menjaga kualitas dan kuantitas aliran air dan sumbernya dari pembangunan yang ada;
  3. Melindungi dan meningkatkan saluran air dan buangannya dari areal terbangun menuju areal hijau kawasan, khususnya yang terkait dengan lansekap sekitarnya;
  4. Melindungi vegetasi dan habitat lokal yang secara signifikan mulai berkurang;
  5. Terintegrasinya habitat dan tumbuhan dengan lingkungan alamiah dan buatan (taman);
  6. Mengurangi gangguan budaya yang merusak lingkungan alami;
  7. Melindungi fitur – fitur geologi;
  8. Mengurangi pembangunan fisik kawasan pada bentukan alami yang natural.

Dalam konteks bangunan baru dalam kawasan perdesaan, tidak berarti bangunan harus memiliki langgam tradisional ataupun lokal. Bangunan baru dalam kawasan perdesaan dapat kontras ataupun tidak menonjol (kontekstual, yaitu sesuai dengan kondisi lingkungannya) – termasuk bangunan di dalamnya dengan bangunan lokal, sesuai dengan bentukan alam dan lansekap kawasan. Yang menjadi perhatian bahwa bangunan baru tidak mengganggu visual kawasan secara keseluruhan.

 Dalam kawasan perdesaan, bangunan modern tidak selalu terlarang, ataupuj harus selalu mengandung unsur tradisional/lokal, tetapi yang perlu ditekankan adalah pembangunan baru harus didesain dengan sensitif memperhatikan hal berikut :

  1. Besarnya bukaan, skala dan proporsi (baik jendela dan pintu), serta dampaknya terhadap view kawasan;
  2. Pemilihan material finishing;
  3. Seting bangunan harus memiliki kontekstual terhadap lansekap, topografi, iklim dan pembangunan dengan lingkungannya;
  4. Skala besarnya bangunan baru harus diperhatikan baik terhadap lingkungan maupun bangunan di sekitarenya sehingga tidak menjadi bangunan besar yang masif;
  5. Bangunan baru tidak merusak skyline kawasan;
  6. Direkomendasikan bangunan beradaptasi dengan bangunan khas lojkal seperti bentuk atap, warna bangunan, pemilihan pagar, finishing material dan fitur bangunan lainnya;
  7. Memperhatikan setback bangunan, arah muka bangunan dan penghijauan pada tapak bangunan.

Strategi Penataan Ruang

Strategi perlindungan karakter kawasan perdesaan dari dampak pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang dapat menurunkan kualitas ruang Kawasan Borobudur sebagai Kawasan Cagar Budaya nasional dan warisan budaya dunia dilakukan dengan cara:

  1. Mempertahankan Kawasan Cagar Budaya dari kerusakan permanen akibat pemanfaatan ruang yang dilaksanakan tanpa memperhatikan kepentingan bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan;
  2. Mencegah terjadinya alih fungsi lahan kawasan pertanian dan kawasan hutan;
  3. Membatasi perkembangan kawasan terbangun perkotaan; dan
  4. Membatasi kegiatan pemanfaatan ruang yang mengancam kerusakan Situs Cagar Budaya yang belum tergali, struktur geologi, dan bentang pandang

Strategi untuk meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan dalam rangka pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang Kawasan Borobudur dilakukan dengan cara mengembangkan kelembagaan lintas wilayah dan lintas sektor serta peran Masyarakat dalam rangka pelestarian dan pengembangan Kawasan Borobudur.

Tujuan

Mewujudkan tata ruang Kawasan Borobudur yang berkualitas dalam rangka menjamin terciptanya pelestarian Kawasan Borobudur sebagai Kawasan Cagar Budaya nasional dan warisan budaya dunia.

Kebijakan

Kebijakan penataan ruang Kawasan Borobudur meliputi:

  1. Perlindungan karakter kawasan perdesaan dari dampak pemanfaatan ruang kawasan perkotaan yang dapat menurunkan kualitas ruang Kawasan Borobudur sebagai Kawasan Cagar Budaya nasional dan warisan budaya dunia; dan
  2. Peningkatan koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi antarpemangku kepentingan dalam rangka pelaksanaan pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang Kawasan Borobudur.
Loading