Lingkup Wilayah 

Kawasan Perkotaan Kedung Sepur (Kendal-Demak-Ungaran-Salatiga-Semarang-Purwodadi) terletak di Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas Kota Semarang sebagai kawasan perkotaan inti dan kawasan perkotaan di sekitarnya yang meliputi Kabupaten Kendal, Kabupaten Demak, Kabupaten Semarang, Kabupaten Grobogan, dan Kota Salatiga. Hampir setengah dari penduduk Kawasan Perkotaan Kedung Sepur berdomisili di Kota Semarang. Jumlah penduduk akhir tahun rencana (2027) diperkirakan kurang lebih 6.812.557 jiwa dan 2.356.251 jiwa (35%) bermukim di Kota Semarang. Kondisi fisik Kawasan Perkotaan Kedung Sepur sangat beragam dengan ketinggian 0–99 m dpl dan ketinggian 100 – 499 m dpl pada sebagian kawasan di bagian utara dan timur, serta ketinggian 500-999 m dpl dan ketinggian di atas 1.000 m dpl di bagian selatan dan barat daya.

Dasar penetapan Kawasan Perkotaan Kedung Sepur sebagai salah satu Kawasan Stratetgis  Nasional adalah PP No. 26 tahun 2008 tentang RTRWN. Pertimbangan penetapan Kedung Sepur sebagai kawasan perkotaan antara lain luas penggunaan lahan perkotaan yang cukup mendominasi; pola pergerakan yang cukup tinggi ke Kota Semarang dari kota-kota di sekitarnya seperti Kab. Semarang, Kab. Kendal, dan Kab. Demak; serta aspirasi stakeholder.

Seiring dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan jumlah penduduk, Kawasan Perkotaan  Kedung Sepur cenderung terus tumbuh dan mengarah pada penyatuan fisik dengan tingkat interaksi yang sangat tinggi serta dalam upaya menghadapi tantangan era globalisasi dimasa depan. Oleh karenanya diharapkan Kawasan Perkotaan Kedung Sepur mampu memanfaatkan peluang melalui penerapan prinsip “kemandirian lokal”. Prinsip ini diyakini mampu menggali potensi dan warna lokal secara optimal dan kemudian dapat memanfaatkannya sebagai identitas Kawasan Perkotaan Kedung Sepur agar dapat bersaing dalam kegiatan pembangunan di bidang sosial ekonomi dan budaya maupun politik. Secara umum dapat diartikan bahwa dengan memanfaatkan potensi lokal, diharapkan akan dapat berkembang lebih cepat. Di samping itu, di dalam Kawasan Perkotaan Kedung Sepur diharapkan terwujud kerja sama diantara kabupaten/ kota terkait untuk dapat menciptakan manfaat kepada semua masyarakat yang ada di dalamnya melalui mekanisme yang jelas. Dengan demikian, diharapkan akan terwujud pemanfaatan ruang yang sama-sama terkait, berkesinambungan, dan berkelanjutan antar kabupaten/ kota.

Lingkup wilayah studi meliputi seluruh wilayah Kedungsepur yang terdiri atas:

  1. Kabupaten Kendal, meliputi 19 kecamatan, 265 desa dan 20 kelurahan.
  2. Kabupaten Demak, meliputi 14 kecamatan, 247 desa.
  3. Kabupaten Semarang, meliputi 17 kecamatan, 220 desa dan 15 kelurahan.
  4. Kota Semarang, meliputi 16 kecamatan, 117 kelurahan
  5. Kota Salatiga, meliputi 4 kecamatan, 16 kelurahan
  6. Kabupaten Grobogan, meliputi 19 kecamatan, 280 desa.

Sedangkan untuk batas-batas wilayah Kedungsepur adalah sebagai berikut:

  • Sebelah Utara : Laut Jawa dan Kabupaten Jepara.
  • Sebelah Timur : Kabupaten Pati, Blora dan Kudus.
  • Sebelah Barat : Kabupaten Batang.
  • Sebelah Selatan : Kabupaten Sragen, Boyolali, Magelang dan Temanggung.

Kawasan Kedungsepur merupakan gabungan dari enam Kabupaten/Kota, terletak di bagian utara Provinsi Jawa Tengah. Wilayah ini secara geografis terletak diantara 109°10’ - 111°25’ BT, dan 6°43’26’’ - 7°32’ LS.

Luas keseluruhan Wilayah Kedungsepur sebesar 5.256,53 Km2 atau sekitar 16,25% dari total keseluruhan luas wilayah Provinsi Jawa Tengah. Secara topografi, Kawasan Kedungsepur bagian utara terletak pada ketinggian antara 0-25 m dan merupakan daerah dataran rendah, sedang bagian Selatan memiliki ketinggian antara 0-2.579 m yang merupakan daerah tanah pegunungan.

Profil KSN

Kondisi Topografi dan Morfologi

Secara topografi, Kawasan Kedungsepur bagian utara terletak pada ketinggian antara 0-25 m dan merupakan daerah dataran rendah, sedang bagian Selatan memiliki ketinggian antara 0-2.579 m yang merupakan daerah tanah pegunungan.

Ketinggian masing-masing daerah Wilayah Kedungsepur, yaitu:

  • Kabupaten Kendal : 50-2.579 m dpl
  • Kabupaten Demak : 3-100 m dpl
  • Kabupaten Semarang : 310-1.950 m dpl
  • Kabupaten Grobogan : 11-129 m dpl
  • Kota Semarang : 0,75-359 m dpl
  • Kota Salatiga : 525-675 m dpl

Kondisi fisik wilayah ini mempunyai karakteristik, yaitu:

  • Pesisir Utara, membentang dari Kendal, Kota Semarang ke Demak.

Kawasan ini merupakan kawasan pantai yang dibudidayakan sebagai kawasan tambak serta menjadi daerah hilir/muara beberapa sungai besar di Sub Regional Kedungsepur;

  • Bagian Selatan, merupakan daerah pegunungan dan dataran tinggi yang sudah tidak aktif lagi, dengan puncaknya yaitu Gunung Ungaran. Daerah ini merupakan daerah yang cukup subur, banyak mata air, hulu sungai, serta tambang mineral;
  • Bagian Timur dan Tenggara, terdapat daerah rawan banjir yaitu di daerah Demak.

Kondisi fisik Kawasan Kedungsepur secara umum cukup beragam, meliputi wilayah yang dataran rendah hingga perbukitan, sebagai bentukan akibat dilingkupi oleh beberapa gunung dan pegunungan.

Kondisi Klimatologi

Iklim merupakan kondisi rata-rata dari semua peristiwa yang terjadi di atmosfer yang terdapat pada suatu daerah yang luas serta pada waktu relatif lama. Secara umum Kawasan Kedungsepur beriklim tropis, curah hujan rata-rata tahunan sebesar 3.846,4 mm dan hari hujan rata-rata adalah 124 hari/tahun Temperatur udara maksimum-minimum di Kawasan Kedungsepur rata rata 33,7 °C dengan temperatur tertinggi pada bulan September dan temperatur terendah pada bulan Juli dan Agustus (22,4°C). Sedangkan kelembaban nisbi rata rata mencapai 79 % dengan prosentase terbesar pada bulan Desember yang mencapai rata-rata 85%, sedangkan arah angin sebagian besar bergerak dari arah tenggara barat laut dengan kecepatan rata-rata antara 5,90 km per jam.

Kondisi Hidrologi

Sumber-sumber air di Wilayah Kedungsepur berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, bendungan, laut dan pantai. Sungai-sungai utama yang terdapat di Wilayah Kedungsepur meliputi: Kali Bulawan, Sungai Garang, Sungai Bodri, Sungai Babon/Penggaron, Sungai Jragung, Sungai Tuntang dan Sungai Serang.

Adapun sumber-sumber mata air selain sungai terdiri atas danau, waduk dan mata air yang antara lain meliputi: Rawa Pening, beberapa mata air dan Waduk Kedung Ombo.

Kondisi Geologi

Struktur geomorfologi di Kawasan Kedungsepur dapat dibedakan menjadi dua bagian yaitu dataran rendah dan perbukitan. Dataran rendah terutama pada wilayah kabupaten/kota yang terletak di pesisir pantai utara. Sedangkan daerah perbukitan mencakup wilayah Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Semarang serta Kabupaten Kendal bagian Selatan.

  • Stratigrafi

Kondisi stratigrafi di Kawasan Kedungsepur disusun oleh struktur batuan yang terbagi menjadi dua bagian. Daerah dataran rendah memiliki struktur geologi berupa batuan endapan atau alluvium yang berasal dari endapan sungai.

Sedangkan daerah perbukitan memiliki susunan batuan beku. Secara keseluruhan struktur geologi Kawasan Kedungsepur terdiri dari batuan alluvium berupa aluvial kelabu kuning dan aluvial yodimorf.

Struktur Geologi

Pada dasarnya struktur geologi yang menyusun Kawasan Kedungsepur cenderung bervariasi tergantung dari letak wilayah terhadap daerah sekitarnya. Struktur geologi di Kawasan Kedungsepur terdiri dari berbagai batuan yang meliputi: Batuan Endapan Aluvial, Batuan Formasi Kerek, Batuan Formasi Damar, Batuan Formasi Kaliteng, Batuan Formasi Kaligetas, Batuan Gunung Api Gajahmungkur, Batuan Gunung Api Gilipetung, Batuan Formasi Penyatan, Batuan Gunung Api Merbabu, Batuan Formasi Bulu, Batuan Gunung Api Tak Terpisahkan

Topografi Wilayah Kedungsepur yang bervariasi menghasilkan bentang alam yang unik karena terdiri dari daerah dataran rendah (dataran pantai), hingga daerah yang merupakan dataran tinggi. Kondisi daerah hilir Wilayah Kedungsepur yang relatif datar sangat potensial untuk dijadikan daerah pengembangan fisik kawasan. Cadangan lahan untuk pembangunan fisik masih tersedia cukup luas, terutama pada kawasan yang berbatasan dengan Kota Semarang sebagai kota dengan pertumbuhan yang sangat pesat.

Kondisi hidrologi Wilayah Kedungsepur sangat potensial untuk dijadikan sebagai sumber air baku dan sumber air irigasi karena banyaknya sungai yang ada dan mengalir secara lintas daerah dari hulu ke hilir. Sungai ini juga dapat berfungsi sebagai jaringan drainase primer untuk mengalirkan air hujan.

Selain itu, Wilayah Kedungsepur juga memiliki potensi cekungan air tanah yang cukup tinggi serta mempunyai banyak sumber mata air yang dapat digunakan sebagai sumber air baku. Sumber-sumber air di Wilayah Kedungsepur berupa sumber air di permukaan tanah dan air tanah. Sumber air di permukaan tanah berasal dari sungai-sungai, bendungan, laut dan pantai. Sumber-sumber mata air selain sungai terdiri atas danau, waduk dan mata air yang antara lain, yaitu:

Rawa Pening

Danau ini terletak di tiga wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Ambarawa, Tuntang, dan Banyubiru. Dalam penggunaannya, danau ini dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik, irigasi, perikanan darat, serta pariwisata dan rekreasi.

  1. Mata air dengan tingkat produktivitas kecil, yaitu 15% dari luas wilayah, meliputi Kecamatan Kedungjati, Gabus, Ngaringan, Wirosari, Tawangharjo, Grobogan, Brati, Klambu, dan Tanggungharjo. Air tanah langka meliputi daerah Kecamatan Purwodadi, Klambu, Godong, Gubug, dan Tegowanu.
  2. Waduk Kedung Ombo

Sumber air yang berasal dari waduk Kedung Ombo difungsikan sebagai potensi sunber daya alam dalam memenuhi kepentingan kehidupan penduduk beserta aktivitasnya juga berfungsi dalam menjaga keseimbangan ekosistem (lingkungan).

Potensi sektor pertanian di wilayah Kedungsepur didukung oleh lahan pertanian sawah beririgasi teknis merupakan lahan yang berpotensi memberikan produktivitas tinggi dalam budidaya pertanian sawah, terutama padi karena lahan beririgasi teknis ini biasanya mampu menghasilkan padi sedikitnya dua kali panen setiap tahunnya. Untuk itu dalam pengembangan wilayah di masa datang, keberadaan lahan pertanian ini perlu untuk dipertahankan, dan peningkatan lahan pertanian beririgasi sederhana maupun setengah teknis tertentu menjadi lahan beririgasi teknis.

Di sisi lain, mempertahankan keberadaan lahan ini diharapkan akan mampu menjaga keseimbangan kawasan terbangun dan non terbangun. Sehingga dalam perkembangan selanjutnya, perlu tetap mempertahankan lahan sawah beririgasi teknis untuk tidak dikonversi menjadi penggunaan lahan jenis lain.

Sawah beririgasi teknis pada Wilayah Kedungsepur seluas 59,702 Ha dan tersebar hampir di setiap kecamatan Lahan sawah yang masih luas yaitu di Kabupaten Grobogan sebesar 36,30% dari luas lahan sawah Wilayah Kedungsepur dan Demak sebesar 27,71% serta Kendal 20,63%. Masih luasnya lahan sawah di ketiga daerah tersebut karena sebagai produsen padi untuk Jawa Tengah

Wilayah Kedungsepur memiliki potensi komoditas pertanian yaitu padi dan palawija. Kawasan yang menjadi sentra produksi padi sawah yaitu di Kabupaten Demak dengan luas sawah 31.100 hektar. Penetapan Kabupaten Demak sebagai sentra produksi padi didasarkan pada terjadinya surplus padi sebesar 200.000-210.000 ton / tahun.

Kedungsepur juga kaya akan sumber daya mineral yang terdiri dari bahan galian bangunan, industri, dan keramik. andesit, sirtu dan tanah urug yang termasuk ke dalam jenis bahan galian bangunan banyak dijumpai di Wilayah Kedungsepur. Bahan galian yang paling besar yaitu batu gamping yang terdapat di Kabupaten Grobogan. Bahan galian ini layak tambang, dengan persyaratan penggalian harus dilakukan secara teras dengan ketinggian yang teratur dan menghindari lubang-lubang galian.

Bahan galian yang juga layak tambang yaitu tanah liat yang terdapat di Kabupaten Grobogan dan Kendal. Bahan galian tanah liat layak ditambang pada daerah pedataran umumnya berupa persawahan dan tegalan. Persyaratan yang harus diperhatikan dalam penambangan ini antara lain kedalaman tidak melebihi permukaan air tanah setempat, penggalian dilakukan secara lateral dengan kedalaman yang teratur dan menghindari lubang-lubang galian.

Bahan galian andesit yang layak tambang di Kabupaten Kendal, dengan memenuhi persyaratan penambangan harus dengan metode lateral dan dibuat teras-teras dengan ketinggian tertentu. Bahan galian andesit umumnya terletak pada daerah dataran tinggi, atau bukit-bukit dan gunung sehingga penambangannya harus memperhatikan fungsi kawasan dimana bahan galian tersebut berada.

Kondisi Sistem Transportasi

Transportasi Darat

Transportasi jalan merupakan jaringan transportasi penting dalam sistem transportasi darat. Sifatnya yang fleksibel dan layanan yang door to door merupakan keunggulan yang dimiliki oleh transportasi jalan. Selain itu transportasi jalan memiliki daya jangkau yang tinggi. Moda ini juga sangat baik digunakan untuk jarak dekat dan sedang. Hal yang paling mendasar dalam penyediaan sistem jaringan jalan untuk skala wilayah adalah menjamin aksesibilitas dan efisiensi.

Kabupaten/kota yang termasuk dalam Kawasan Kedungsepur terletak di jalur antara kota-kota Orde I dan juga penghubung utama antar provinsi. Yaitu melalui Jalur Pantai Utara yang menghubungkan Provinsi Jawa Timur-Jawa Tengah-Jawa Barat serta DKI Jakarta dan Jalur Pantai Selatan yang menghubungkan Jawa Tengah dengan DI Yogyakarta.

Dengan posisi yang strategis tersebut, Perencanaan sarana maupun transportasi membutuhkan penanganan yang khusus sehingga dapat mendukung penyebaran aktivitas yang pada akhirnya dapat mengurangi disparitas antar wilayah.

Jaringan prasarana jalan terdiri dari simpul yang berwujud terminal baik terminal penumpang maupun barang dan ruang lalu lintas. Ruang lalu lintas pada transportasi jalan berupa ruas jalan yang ditentukan hirarkinya menurut peranannya yang terdiri atas jalan arteri, jalan kolektor, dan jalan lokal. Di Kawasan Kedungsepur, prasarana jalan utama dapat dijabarkan sebagai berikut:

  • Arteri Primer Utama, menghubungkan Kota Semarang-Bawen-Yogyakarta; serta Semarang-Bawen-Solo;
  • Jalan Arteri primer bagian utara yang menghubungkan Weleri-Kendal-Semarang-Demak;
  • Kolektor Primer, menghubungkan Kota Semarang-Purwodadi; Ambarawa-Banyubiru-Salatiga; Bandungan-Ambarawa; Bergas-Jimbaran-Bandungan-Sumowono ke Temanggung; dll
  • Jalan Tol Semarang yang menghubungkan jalan Perintis Kemerdekaan-Teuku Umar-Krapyak-Majapahit-Kaligawe (Terminal)
     

Transportasi Laut

Jaringan transportasi laut sebagai salah satu bagian dari jaringan moda transportasi air mempunyai perbedaan karakteristik dibandingkan moda transportasi lain yaitu mengangkut penumpang dan barang dalam jumlah besar dan jarak jauh antar pulau maupun antar negara.

Sebagai kawasan yang memiliki potensi laut yang cukup besar, prasarana transportasi laut di Kawasan Kedungsepur juga memiliki potensi besar untuk pengembangan pelabuhan laut. Pelabuhan Tanjung Emas yang terletak di Kota Semarang merupakan pelabuhan utama di Jawa Tengah yang cukup penting dan strategis karena menjadi simpul perekonomian dan pintu gerbang ekspor dan impor. Peranan ini tidak hanya berlaku bagi Kota Semarang saja namun juga Kedungsepur secara kawasan maupun secara administratif Jawa Tengah. Selain itu Pelabuhan Tanjung Emas juga memiliki potensi daerah penyangga yaitu Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan daerah Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Barat.

Transportasi Udara

Bandara Ahmad Yani yang merupakan satu-satunya bandara yang ada di kawasan Kedungsepur baru saja memiliki status bandara internasional sesuai KM No. 64 tahun 2004 tanggal 10 Agustus 2004. Dengan status ini Bandara Ahmad Yani mulai melayani penerbangan internasional yang saat ini dibuka jalur penerbangan Semarang-Singapura.

Tujuan

Penataan Ruang Kawasan Perkotaaan Kedungsepur bertujuan untuk mewujudkan Kawasan Perkotaan sebagai pusat kegiatan ekonomi berskala internasional, berbasis perdagangan dan jasa, industri, dan pariwisata, dengan tetap memperhatikan lahan pertanian pangan brkelanjutan.

Kebijakan

Kebijakan Penataan Ruang Kawasan Perkotaan Kedungsepur meliputi :

  1. pengembangan dan pemantapan sistem kota secara hierarkis dan terintegrasi dalam bentuk Perkotaan Inti dan Perkotaan di Sekitarnya sesuai dengan fungsi dan perannya;
  2. pengembangan dan peningkatan sistem prasarana dan sarana perkotaan yang terpadu untuk memenuhi kebutuhan pengembangan kegiatan permukiman, industri, perdagangan dan jasa, pariwisata, dan kebutuhan Masyarakat, serta meningkatkan keterkaitan antara Kawasan Perkotaan Inti dan Kawasan Perkotaan di Sekitarnya;
  3. penetapan dan peningkatan fungsi, kuantitas, dan kualitas Kawasan Lindung dan RTH dengan memperhatikan upaya pencegahan bencana untuk mendukung pembangunan berkelanjutan;
  4. penetapan dan pemantapan Kawasan Budi Daya sesuai dengan kapasitas daya dukung lingkungan dan kesesuaian lahan dengan memperhatikan kearifan lokal;
  5. pengembangan ekonomi berskala internasional dan nasional berbasis p[erdagangan dan jasa, industri, termasuk industri agro, dan pariwisata di Kawasan Perkotaan Kedungsepur; dan
  6. peningkatan koordinasi, sinkronisasi dan keterpaduan pembangunan melalui kerjasama antarderah, kemitraan pemangku kepentingan, dan penguatan peran masyarakat.
Loading