Profil RTR KSN Cekungan Bandung

Cakupan wilayah :

KSN Perkotaan Cekungan Bandung ini merupakan KSN dari sudut kepentingan ekonomi yang meliputi Perkotaan Inti yaitu seluruh wilayah Kota Bandung dan Kota Cimahi, Perkotaan disekitarnya : seluruh wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung serta sebagaian wilayah Kabupaten Sumedang dengan rincian cakupan wilayah meliputi kawasan berikut :

Kab Bandung Barat : Kawasan Perkotaan Padalarang-Ngamprah, Kawasan Perkotaan Cipatat, Kawasan Perkotaan Batujajar, Kawasan Perkotaan Cihampelas, Kawasan Perkotaan Lembang, Kawasan Perkotaan Cipeundeuy-Cikalong Wetan, dan Kawasan Perkotaan Cililin di Kabupaten Bandung Barat

Kab Bandung : Kawasan Perkotaan Soreang-Kutawaringin-Katapang, Kawasan Perkotaan Margahayu-Margaasih, Kawasan Perkotaan Majalaya-Ciparay, Kawasan Perkotaan Baleendah-Dayeuhkolot-Bojongsoang, Kawasan Perkotaan Banjaran, Kawasan Perkotaan Cicalengka, dan Kawasan Perkotaan Cileunyi-Rancaekek

Sumedang : Kawasan Perkotaan Jatinangor-Tanjungsari

Kota/Kabupaten

Terminal A

Terminal B

Terminal C

Kab. Bandung

 

Cileunyi, Majalaya, Pangalengan, Ciwidey, Baleendah

Banjaran, Ciparay, Cicalengka,Soreang

Kab. Bandung Barat

 

 

Cililin, Lembang, Cisarua, Padalarang

Kab. Sumedang

 

Ciakar, Tanjung Sari

Wado, Buah Dua, Tanjungsari

Kota Bandung

Cicaheum, Leuwi Panjang

 

Ciroyom, Dago, Ledeng, Stasion

Kota Cimahi

 

 

Pasar Atas, Pasar Antri Baru, Sangkuriang

Profil Wilayah

Cekungan Bandung merupakan wilayah topografi berbentuk cekungan dengan luas kurang lebih 343.087 hektar. Bagian terendah Cekungan Bandung merupakan dataran dengan luas kurang lebih 75.000 hektar dan elevasi sekitar +650 m sampai +700 m di atas muka laut. Cekungan Bandung dikelilingi oleh banyak gunung-gunung dengan elevasi mencapai lebih dari +2.000 m di atas muka laut, antara lain yaitu gunung-gunung:

Bentang alam gunung-gunung yang mengelilingi Cekungan Bandung ini umumnya berupa kerucut gunung api yang menampakkan bentukan fasies sentral (puncak gunung), fasies proksimal (lereng atas), fasies medial (lereng bawah), dan fasies distal (kaki gunung dan dataran). Pada gunung api muda dicirikan oleh bentuk kerucut yang keempat fasiesnya masih utuh dengan pola aliran sungainya menyebar dari puncak gunung (radial pattern). Pada gunung api yang semakin tua bentuk kerucutnya semakin “kasar”/bergelombang akibat erosi yang semakin lanjut, dengan pola aliran sungainya berbentuk mendaun (dendritic pattern).

Sungai-sungai yang mengalir di Cekungan Bandung ini dapat di kelompokkan ke dalam beberapa Sub Daerah Aliran Sungai (Sub DAS), yaitu: Sub DAS Cihaur, Sub DAS Cikapundung, Sub DAS Citarik, Sub DAS Cirasea, Sub DAS Cisangkuy, Sub DAS Ciwidey, dan Sub DAS Ciminyak.

Anak-anak sungai yang mengalir di Cekungan Bandung, baik dari utara, timur, dan selatan, semuanya bermuara di induk sungai, yaitu Sungai Citarum yang kemudian mengalir berkelokkelok dari timur ke barat di dataran rendah Bandung melewati Curug Jompong dan terus bermuara di Waduk Saguling. Curug Jompong adalah bentukan alam air terjun Sungai Citarum karena adanya pematang batuan beku dasit yang melintang sungai.

Anak-anak sungai yang mengalir dari Cekungan Bandung bagian utara dan bagian selatan umumnya bermuara dengan posisi tegak lurus di Sungai Citarum. Bahkan beberapa anak sungai bermuara dengan arah berlawanan arus Sungai Citarum.

Umumnya dari ketinggian puncak gunung atau mata air terus turun hingga ketinggian +700 m di atas muka laut, anak-anak sungai yang bermuara di Sungai Citarum ini memiliki penampang memanjang dengan kemiringan sungai terjal (gradien hidrauliknya besar). Kemudian dari ketinggian +700 m hingga muaranya di Sungai Citarum memiliki penampang memanjang landai bahkan datar (gradien hidrauliknya kecil). Pada lereng-lereng yang terjal limpasan air permukaan atau “run off” lebih besar dibanding dengan daerah yang lebih landai.

Berdasar geometri Sungai Citarum berikut anak-anak sungainya yang seperti tersebut di atas, bila musim hujan tiba terjadi akumulasi air sungai di muara-muara anak-anak sungai, meluap menjadi genangan banjir di dataran Cekungan Bandung. Berdasar sebaran litologi sedimen aluvial, daerah yang berpotensi rawan banjir terhampar seluas kurang lebih 20 Km x 10 Km.

Isu-isu umum perkotaan

  1. Keterbatasan kondisi fisik membatasi pengembangan Kawasan Perkotaan dan infrastruktur transportasi
  2. Rendahnya daya dukung lingkungan di Kawasan Perkotaan
  3. Degradasi kawasan hutan
  4. Pertumbuhan penduduk yang terpusat di Kota Bandung dan Cimahi
  5. Belum terintegrasinya transportasi massal antarpusat kegiatan
  6. Urban Sprawl

 

Isu isu strategis

  1. PEMULIHAN SUNGAI CITARUM
  • Degradasi ekosistem sungai citarum
  • Masifnya alih fungsi lahan pada wilayah hulu hingga bantaran sungai
  • Tingginya polutan di badan sungai
  1. PENGEMBANGAN KAWASAN
  • Keterbatasan fisik untuk pengembangan kawasan khususnya geologi dan sumber daya air di kawasan cipendeuy-cikalong wetan

 

Konsep penanganan

  1. Pengembangan kawasan yang terpadu antara daya dukung lingkungan, pengembangan ekonomi dan sosial budaya
  2. Konservasi air tanah dengan mempertahankan kualitas dan kuantitas air tanah dan air permukaan, serta penanggulangan banjir
  3. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, sumber daya air, serta sarana dan prasarana perkotaan

 

Tujuan

Mewujudkan Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang berkelas dunia sebagai pusat kebudayaan, pusat pariwisata, pusat kegiatan jasa dan ekonomi kreatif nasional berbasis pendidikan tinggi dan industri berteknologi tinggi yang berdaya saing dan ramah lingkungan.

 

Kebijakan

  1. Pengembangan dan pemantapan pusat perekonomian nasional, pusat kebudayaan, pusat pariwisata, pusat kegiatan jasa dan ekonomi kreatif nasional berbasis pendidikan tinggi dan industri berteknologi tinggi
  2. Pengembangan dan peningkatan fungsi utama masing-masing pusat kegiatan
  3. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, sumber daya air, serta sarana dan prasarana perkotaan
  4. Pengembangan kawasan yang terpadu antara daya dukung lingkungan, pengembangan ekonomi & sosial budaya
  5. Konservasi air & tanah dengan mempertahankan kualitas & kuantitas air tanah & air permukaan, serta penanggulangan banjir

 

 

Loading