Gambaran Umum


Umum

Nama Sulawesi diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa - bahasa di Sulawesi Tengah yaitu kata sula yang berarti nusa (pulau) dan kata mesi yang berarti besi (logam), yang mungkin merujuk pada  praktik perdagangan bijih besi hasil produksi tambang - tambang yang terdapat  di sekitar Danau Matano, dekat Sorowako di Luwu Timur. Dengan luas wilayah sebesar 174.600 km2, pulau Sulawesi merupakan  Pulau Terbesar Keempat  di Indonesia setelah Papua, Kalimantan dan Sumatera.

Sebagian  besar  daratan  di Pulau Sulawesi bergunung - gunung  (42.80% berada  di atas  ketinggian 500 meter  dari permukaan laut) dan Katopasa adalah gunung tertinggi dengan ketinggian 2.835 meter dari permukaan laut.

Sulawesi merupakan pulau yang khas dan terletak di tengah – tengah Kawasan Wallacea. Kawasan ini merupakan wilayah yang terletak di antara dua benua yaitu Asia dan Australia dengan tingkat endeminitas yang tinggi dalam hal flora dan fauna, maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakatnya.

Data Administrasi

Pemerintahan  di Sulawesi dibagi menjadi enam provinsi yakni :

  1. Provinsi Sulawesi Selatan, dengan luas 46.717 KM2
  2. Provinsi Sulawesi Utara, dengan luas 13.852 KM2
  3. Provinsi Sulawesi Tengah, dengan luas 61.841 KM2
  4. Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan luas 38.068 KM2
  5. Provinsi Gorontalo, dengan 11.257 luas KM2
  6. Provinsi Sulawesi Barat. dengan luas 16.787 KM2

Dari keenam provinsi yang ada, Sulawesi Tengah merupakan provinsi terbesar  dengan  luas wilayah daratan  61.841,29 km2  dan luas laut mencapai  189.480 km2  yang mencakup semenanjung   bagian Timur dan sebagian semenanjung  bagian Utara serta Kepulauan Togean di Teluk Tomini dan pulau - pulau di Banggai Kepulauan di Teluk Tolo.

Tujuan Utama dari Rencana Tata Ruang (RTR) Sulawesi

Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sulwesi merupakan arahan bagi rencana pengembangan Pulau Sulawesi sampai jangka waktu 20 tahun  mendatang yang menyangkut berbagai kepentingan  stakeholder, oleh karena itu informasi rencana  didalamnya harus diketahui tidak hanya oleh kalangan pemerintah  saja, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tntang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) menyatakan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) adalah rencana tata ruang yang bersifat umum. Dalam rangka penjabaran dan operasionalisasi system nasional yang termuat dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWNO diamanatkan untuk disusun rencana rinci yang berupa Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sulawesi.

Mewujudkan Sulawesi sebagai pusat pengembangan ekonomi kelautan

Potensi/ Keunikan

Sulawesi memiliki kondisi sosial budaya yang sangat beragam. Masing - masing provinsi memiliki kondisi etnis, bahasa, dan adat istiadatnya masing - masing. Sebagai contoh di Sulawesi Utara terdiri atas tiga kelompok etnis utama, yakni Suku Minahasa (33,2%), Suku Sangihe dan Talaud (19,8%), dan Suku Bolaang Mongondow (11,3%). Masing - masing kelompok etnis terbagi pula sub etnis yang memiliki bahasa,  tradisi dan norma - norma  kemasyarakatan  yang khas. Inilah yang membuat bahasa di provinsi itu terbagi dalam Bahasa Minahasa (Toulour, Tombulu, Tonsea, Tontemboan, Tonsawang, Ponosakan  dan  Batik); Bahasa  Sangihe Talaud (Sangihe Besar, Siau, Talaud); dan  Bahasa  Bolaang Mongondow (Mongondow, Bolaang, Bintauna, Kaidipang).

Pembangunan ekonomi Sulawesi berfokus pada kegiatan – kegiatan ekonomi utama pertanian pangan, kakao, perikanan, dan nikel. Selain itu, kegiatan ekonomi utama, minyak dan gas bumi dapat dikembangkan untuk menjadi mesin pertumbuhan ekonomi di wilayah ini.

Secara  keseluruhan,  ekonomi  Wilayah  Sulawesi  ditopang  oleh  tiga  lapangan  usaha utama, yakni pertanian, jasa, dan perdaggangan.   Namun demikian penyebaran sumber daya alam pertambangan tidak merata antar daerah.   Di luar ketiga sektor utama tersebut, sektor industri pengolahan dan sektor angkutan juga memiliki peran yang besar. Struktur perekonomian wilayah tersebut relatif tidak mengalami pergeseran yang berarti selama periode 2004 - 2011.   Namun kontribusi kedua sector utama, yaitu sector pertanian dan sector jasa mengalami perubahan, dimana kontribusi sector pertanian pada tahun 2011 menurun dan sector jasa meningkat dibandingkan pada kondisi tahun 2011.

Adanya potensi  pengembangan sektor/komoditas  unggulan   berbasis  sumber  daya alam, terutama  pertanian tanaman  pangan ( jagung), perkebunan  (kelapa, cengkih, pala), pertanian hortikultura, perikanan (budidaya dan tangkap),  dan  pariwisata (ekowisata, wisata bahari, MICE),  perlu  didukung oleh infrastruktur sebagai sistem konektivitas antar pusat kegiatan atau hinterlandnya. Infrastruktur dimaksud antara lain pembangunan jalan nasional, jalan tol Manado - Bitung, dan pengembangan Kawasan Pelabuhan Bitung sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Hubungan Internasional.

Luas kawasan hutan dan perairan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan  tentang Penunjukan   Kawasan   Hutan   dan   Kawasan Konservasi Perairan tahun 2009 di Wilayah Sulawesi tercatat sekitar 12.606.800 hektar atau 9,23 persen dari total nasional. Proposi penggunaan kawasan hutan dan perairan terluas adalah hutan lindung dan hutan produksi terbatas. Penyebaran hutan lindung terbesar di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan, sementara pennyebaran luas hutan produksi terbatas di Sulawesi Tengah dan Sulwesi Utara.

Sumberdaya alam lainnya adalah pertambangan dan energi, diantaranya batu bara, gas bumi dan minyak bumi yang cukup berlimpah. Perkembangan produksi batu bara nasional tahun 2004 - 2011 meningkat dengan produksi batubara hingga akhir tahun 2011 mencapai 290 juta ton. Total sumberdaya batu bara nasional tahun 2011 adalah sebanyak 105.187,44 juta ton.  Potensi batu bara di Wilayah Sulawesi sekitar 233,1 juta ton atau sebesar 0,22 persen dari total potensi batu bara nasional. Untuk potensi gas bumi, Wilayah Sulawesi memiliki potensi gas bumi sebesar 3,83 TSCF (Trillion Square Cubic Feet) atau sebesar 3,76 persen dari potensi cadangan gas bumi nasional.

Sementara untuk minyak bumi, cadangan minyak bumi Indonesia mencapai 7.039,57 MMSTB (Million Stock Tank Barrels / Cadangan Minyak Bumi) dengan cadangan minyak bumi di Wilayah Sulawesi mencapai sekitar 49,11 MMSTB atau sebesar 0,67 oersen dari cadangan.

Isu  Strategis

  1. Penataan Ruang Kawasan Lindung di Pulau Sulawesi mendapat tantangan mengingat banyaknya potensi bahan galian tambang di Sulawesi yang terdapat  di kawasan  hutan  lindung dan  kawasan  pelestarian alam.
  2. Pengembangan sentra pertambangan (termasuk emas, nikel aspal, minyak dan gas bumi) berpotensi besar menimbulkan degradasi kawasan dan kerusakan hutan, yang selanjutnya akan memberi kontribusi terhadap perubahan iklim akibat dari menurunnya kapasitas rosot karbon.
  3. Penataan ruang kawasan budidaya melalui pengemangan sentra pertanian tanaman pangan palwijaya, perkebunan (a.1 kelapa sawit dan kakao) dan industry pengolahannya dilaksanakan dengan memperhatikan keterbatasan daya dukung berdasarkan pertimbangan kemampuan lahan, kesesuaian lahan ketersediaan sumber daya air. Mengingat struktur geomorfologinya, potensi kerawanan bencana dan degradasi lahan, kawasan pegunungan dan berlereng dengan tingat kemampuan dan kesesuaian lahan yang rendah perlu mendapat perhatian yang seksama dalam pemanfaatannya untuk pengembangan pertanian pangan.
  4. Pengembangan perkebunan  kakao dan perkebunan lainnya perlu diarahkan dan dikendalikan agar tidak mengalihfungsikan kawasan hutan berfungsi lindung dan lahan pertanian tanaman pangan strategis.
  5. Mengingat titik berat pengembangan struktur ruang terletak pada pembangunan pertanian, pesisir, kelautan dan pulau – pulau kecil; maka untuk (1) mencegah ekstensifikasi lahan perkebunan kakao dan kelapa sawit tanpa  terkendali; (2) mencegah alih fungsi  lahan  pertanian  dan  kawasan  lindung di masa mendatang seperti di Jawa, serta (3) mempertimbangkan ekosistem Sulawesi yang rentan, maka diperlukan pengendalian pemanfaatan ruang yang ketat, serta diawasi secara efektif.
  6. Guna  mengimbangi   atas   tekanan   pembangunan di daratan, pengembangan Pulau Sulawesi perlu mengoptimalkan  potensi kawasan andalan laut dengan sektor unggulan perikanan dan pariwisata bahari.
  7. Sistem jaringan dan pilihan moda transportasi  darat diarahkan tidak hanya memperhatikan  peran pusat- pusat kegiatan ekonomi dan permukiman penduduk, tetapi  juga memperhatikan  sebaran  lokasi kawasan lindung, khususnya yang sedang dan berpotensi terancam kerusakan atau alih fungsi.
  8. Dengan mempertimbangkan karakteristik Pulau Sulawesi yang relative tidak kompak, kebijakan struktur ruang pulau terkait dengan pengembangan jaringan prasarana transportasi perlu dikembangkan dengan lebih meningkatkan peran system transportasi laut guna mengimbangi system trasnportasi darat.
Loading