Gambaran Umum


RTR Pulau Sumatera merupakan penjabaran struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam kebijaksanaan dan strategi pemanfaatan ruang Pulau Sumatera yang digambarkan pada peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1 : 500.000, sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Presiden ini.

RTR Pulau Sumatera disusun berdasarkan kebijaksanaan berikut:

  1. Memantapkan interaksi antar-kawasan pesisir timur, kawasan tengah, dan kawasan pesisir barat Sumatera melalui pengembangan sistem jaringan transportasi darat, laut, dan transportasi udara lintas Sumatera yang handal;
  2. Mendorong berfungsinya pusat-pusat permukiman perkotaan sebagai pusat pelayanan jasa koleksi dan distribusi di Pulau Sumatera;
  3. Mengembangkan akses bagi daerah terisolir dan pulau-pulau kecil di pesisir barat dan timur Sumatera sebagai sentra produksi perikanan, pariwisata, minyak dan gas bumi ke pusat kegiatan industri pengolahan serta pusat pemasaran lintas pulau dan lintas negara;
  4. Mempertahankan kawasan lindung sekurang-kurangnya 40% dari luas Pulau Sumatera dalam rangka mengurangi resiko dampak bencana lingkungan yang dapat mengancam keselamatan masyarakat dan asset-asset sosial-ekonominya yang berbentuk prasarana, pusat permukiman maupun kawasan budidaya;
  5. Mengembangkan komoditas unggulan wilayah yang memiliki daya saing tinggi melalui kerjasama lintas sektor dan lintas wilayah provinsi dalam pengelolaan dan pemasarannya dalam rangka mendorong kemandirian akses ke pasar global dengan mengurangi ketergantungan pada negara-negara tetangga;
  6. Menghindari konflik pemanfaatan ruang pada kawasan perbatasan lintas wilayah meliputi lintas wilayah provinsi, lintas wilayah kabupaten dan kota;
  7. Mempertahankan dan melestarikan budaya lokal dari pengaruh negatif globalisasi dan liberalisasi perdagangan dunia;
  8. Memantapkan keterkaitan antara kawasan andalan, kawasan budidaya lainnya, berikut kota - kota pusat - pusat kegiatan didalamnya dengan kawasan - kawasan dapusat-pusat pertumbuhan antar pulau di wilayah nasional, serta dengan pusat - pusat pertumbuhan di kawasan sub-regional ASEAN, Asia Pasifik dan kawasan internasional lainnya.

Terletak di bagian barat gugusan Nusantara dengan posisi koordinat 0°00” LU -  102°00” BT. Pulau seluas 470.000 km² ini merupakan pulau keenam terbesar di dunia. Pulau Sumatera merupakan  salah satu pulau terbesar di Indonesia terdiri dari pulau besar dan pulau-pulau kecil. Letak Pulau  Sumatera  terutama  pada  kawasan  pantai timur memiliki posisi yang strategis  karena  berdekatan dengan pusat perdagangan dan lalu lintas perdagangan internasional serta pusat pengembangan SIJORI (Singapore-Johor-Riau/Batam) dan IMS-GT (Indonesia- Malaysia-Singapore Growth  Triangle), yang  memberi keuntungan dalam pengembangan perdagangan internasional.  Potensi-potensi  yang dimiliki belum sepenuhnya  digali dan  dimanfaatkan  untuk memenuhi kebutuhan   lokal,  regional,  nasional  dan  juga  untuk keperluan ekspor

Pulau Sumatera terletak di bagian barat gugusan Kepulauan Nusantara. Di sebelah utara berbatasan dengan  Teluk Benggala, di timur dengan  Selat Malaka, di sebelah  selatan  dengan  Selat Sunda, dan di sebelah barat  dengan  Samudera  Hindia. Di sebelah  timur Pulau Sumatera,   banyak   dijumpai  rawa  yang  dialiri  oleh sungai-sungai besar, antara  lain; Asahan(Sumatera Utara), Kampar, Siak dan Sungai Indragiri (Riau), Batang Hari(Sumatera Barat, Jambi), Ketahun (Bengkulu), Musi, Ogan, Lematang, Komering (Sumatera Selatan), dan Way Sekampung (Lampung).

Di bagian barat  pulau, terbentang  Pegunungan  Barisan yang  membujur  dari  utara  hingga  selatan.  Sepanjang bukit barisan terdapat gunung-gunung berapi yang hingga saat ini masih aktif, seperti Marapi (Sumatera Barat), Bukit Kaba (Bengkulu), dan Kerinci (Jambi).

Pulau Sumatera  juga banyak  memiliki danau  besar,  di antaranya  Laut Tawar (Aceh),  Danau  Toba  (Sumatera Utara), Danau Singkarak, Danau Maninjau, Danau Diatas, dan Danau Dibawah (Sumatera Barat), dan Danau Ranau (Lampung dan Sumatera Selatan).

Tujuan Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) Pulau Sumatera

Merupakan arahan bagi rencana pengembangan Pulau Sumatera sampai jangka waktu 20 tahun  mendatang yang menyangkut berbagai kepentingan  stakeholder, oleh karena itu informasi rencana  didalamnya harus diketahui tidak hanya oleh kalangan pemerintah  saja, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Data Administrasi

Pulau Sumatera terdiri atas 10 provinsi, yaitu:

  1. Provinsi Aceh dengan ibukota Banda Aceh, luas wilayah 57.365,05 Km2
  2. Provinsi Sumatera Utara dengan ibukota Medan, luas wilayah 72.981,23 Km2
  3. Provinsi Sumatera Barat dengan ibukota Padang, luas wilayah 42.297,30 Km2
  4. Provinsi Riau dengan ibukota Pekanbaru, luas wilayah 94.560,00 Km2
  5. Provinsi Kepulauan Riau dengan ibukota Tanjung Pinang, luas wilayah 8.084,01 Km2
  6. Provinsi Jambi dengan ibukota Jambi, luas wilayah 53.509,19 Km2
  7. Provinsi Sumatera Selatan dengan ibukota Palembang, luas wilayah 85.679,42 Km2
  8. Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan ibukota Pangkal Pinang, luas wilayah 16.424,14 Km2
  9. Provinsi Bengkulu dengan ibukota Bengkulu, luas wilayah 19.788,70 Km2
  10. Provinsi Lampung dengan ibukota Bandar Lampung, luas wilayah 35.376,00 Km2

Potensi

Pulau Sumatera merupakan pulau yang kaya dengan hasil bumi. Dari lima provinsi kaya di Indonesia, tiga provinsi terdapat di Pulau Sumatera, yaitu Provinsi Aceh Darussalam, Riau dan Sumatera  Selatan. Hasil-hasil utama pulau Sumatera  ialah kelapa  sawit, tembakau,  minyak bumi, timah, bauksit, batu  bara  dan  gas alam. Hasil-hasil bumi tersebut sebagian besar diolah oleh perusahaan-perusahaan asing, seperti misalnya PT. Caltex yang mengolah minyak bumi di Provinsi Riau.

Pulau Sumatera kaya akan potensi Pertambangan Mineral berupa Batubara, Panas Bumi dan Migas, namun belum didukung industri pengolahan  yg memberi nilai tambah lebih (ekspor mentah). Kawasan pertambangan di Sumatera meliputi jaringan BBM Dumai-Siak, Kertapati (Palembang)-Jambi, Mobil Oil Pangkalan Berandan, Lapangan Exxon di Lhokseumawe, Laut natuna, Rumbai-Minas Duri, Grisik/Sumatera Selatan, Plaju, berbagai lokasi lepas pantai.

Tempat-tempat  penghasil barang tambang ialah :

  1. Arun (Aceh), menghasilkan gas alam.
  2. Pangkalan Brandan (Sumatera Utara), menghasilkan minyak bumi
  3. Duri, Dumai, dan Bengkalis (Riau), menghasilkan minyak bumi
  4. Tanjung Enim (Sumatera Selatan), menghasilkan batu bara
  5. Plaju dan Sungai Gerong (Sumatera Selatan), menghasilkan minyak bumi
  6. Tanjung Pinang (Kepulauan Riau), menghasilkan bauksit
  7. Indarung (Sumatera Barat), menghasilkan semen
  8. Sawahlunto (Sumatera Barat), menghasilkan batubara  

Kota Medan merupakan kota terbesar dan kota perniagaan di Pulau Sumatera. Banyak perusahaan-perusahaan besar nasional yang berkantor pusat di ibukota Provinsi Sumatera Utara ini.

Pulau Sumatera  adalah  produsen  utama  komoditas kelapa  sawit nasional  (78%), dan  Indonesia merupakan produsen kelapa sawit nomor 1 dunia. Pulau  Sumatera  juga sebagai penghasil  karet  dan  kopi utama  dan  menyumbang  masing-masing 73% dan 72% produksi nasional, menyumbang 23% produksi padi nasional.

Pulau Sumatera kaya akan potensi perikanan (perikanan tangkap 28% produksi nasional, perikanan budidaya 16% produksi nasional), namun memiliki keterbatasan sarana dan prasarana penangkapan dan pananganan pasca tangkap (coldstorage, industri pengolahan ).

Pulau Sumatera memiliki banyak objek wisata diantaranya kawasan wisata Pulau Weh, Pulau Nias, Danau Toba, Dataran Tinggi Karo, Padang, Bukittinggi, Solok, Mentawai, Batam-Bintan, Bangka-Belitung, dan Bandar Lampung, dan Krakatau.

Pulau Sumatera  juga memiliki potensi  wisata cagar budaya  dan  kawasan  bersejarah  seperti  Istana  Maimun, Permukiman Tradisional Tomok, Candi Muara Takus, Candi Muaro Jambi dan Benteng Marlborough.

Isu Strategis

  1. Pulau Sumatera merupakan produsen utama Kelapa Sawit Nasional (78%), produsen utama Karet Nasional (73%), dan Produsen utama Kopi Nasional (72%).
  2. Pulau Sumatera Kaya potensi Pertambangan Mineral, Batubara, Panas Bumi dan Migas, namun belum didukung industri pengolahan yg memberi nilai tambah lebih (ekspor mentah)
  3. Pulau Sumatera memiliki potensi wisata Alam (Danau Toba, Maninjau, Pantai Bangka Belitung, Kepulauan Riau) dan  cagar budaya  bersejarah  (Istana Maimun makam batu  dan  Permukiman Tradisionil Tomok Istana Siak, Istana Pagaruyung, Situs Kerajaan Sriwijaya, Candi Muara Takus, Candi Muaro Jambi, Benteng Marlboruogh).
  4. Laju Deforestasi Pulau Sumatera adalah 269.100 ha/tahun yang dapat mengancam Luas Tutupan Hutan Eksisting Pulau Sumatera saat ini yg tinggal hanya ± 13 juta h a(30%), tapi yg rusak 48%, akibat perubahan menjadi perkebunan (terus menuju kritis).
  5. Ancaman degradasi ekosistem unik Sumatera, antara lain: ekosistem  hutan  tropis  dan  keanekaragaman hayati Sumatera  akibat pengembangan perkebunan dan permukiman.
  6. Pulau Sumatera dilintasi “Ring of fire”:  Bagian Tengah (dari Utara ke Selatan)  merupakan  jajaran  gunung api  yg rawan bencana  dan longsor, Pantai Barat dan Pulau-pulau kecil rawan gempa bumi/tsunami.
  7. Kesenjangan perkembangan wilayah Pulau Sumatera adalah  sebesar  (79% :  21%), antara  Pantai  Timur dengan Pantai Barat semakin melebar, padahal potensi Pantai Barat relatif belum dimanfaatkan.
  8. Wilayah perbatasan negara Pulau Sumatera sepanjang Selat  Malaka dan  Laut China Selatan  merupakan wilayah hinterland, miskin/belum  berkembang  dan terdiri dari pulau-pulau dan pesisir.
  9. Lemahnya  aksesibilitas antar wilayah di Pulau Sumatera: ke/dari pulau-pulau kecil Pantai Barat, Kepulauan Riau, dan akses untuk melewati wilayah Pegunungan Bukit Barisan
Loading